News Photo

Kepala LLDIKTI Wilayah XV: UNIPA Jadi Branding Penting Budaya Pendidikan di Sikka

HUMAS UNIPA  - Kepala Lembaga Pendidikan Tinggi Wilayah XV, Prof. Dr. Adrianus Amheka, S.T,M.Eng menyebut UNIPA saat ini sebagai pusat kendali pengetahuan, inovasi, global engangement, transformasi pembelajaran, organisasi pembelajar dan berbagai hal yang melekat di UNIPA dan sekaligus menjadi branding penting budaya pendidikan di Kabupaten Sikka.

Menurut Prof. Adrianus, data saat ini menunjukkan Secara konkrit, bahwa saat ini tercatat sebanyak 15,229 mahasiswa dalam database PDDikti baik yang aktif dan telah lulus. Prof. Adrianus menerangkan, jika dihitung-hitung sudah berapa puluh miliar perputaran ekonomi melalui pendanaan pendidikan dalam aktivitas mutu UNIPA selama ini, dengan hadirya UNIPA telah menggerakkan ekonomi sekitar dan berdampak bagi kota Maumere baik dari sisi ekonomi, sosial, dan budaya.

Dan "Terselenggaranya wisuda Sarjana tahun 2023 sebagai bukti pemberian arti penting dukungan UNIPA bagi pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sikka pada umumnya dan Kota Maumere secara khusus," demikian sebutnya saat berpidato pada acara wisuda sarjana Tahun 2023, 15 April 2023.


Beliau lanjut menjelaskan, saat ini pendidikan tinggi memegang peranan penting sebagai nadi pembentuk SDM unggul tahun 2045. Pendidikan Tinggi yang mencetak produk-produk unggulan bukan hanya dari sisi Tridarma namun produk unggulan yang terpenting adalah output mahasiswa yang diwisuda dan siap berkontribusi bagi Nusa dan Bangsa. Suatu dilematis yang terjadi manakala Perguruan Tinggi tindak memberikan kontribusi positif bagi kebutuhan Nusa dan Bangsa atau (masyarakat). Dalam hal ini antara lain keterpurukan bangsa yaitu kemiskinan.


Dijelaskan Prof. Adrianus, Menurut laporan Statiskik, pada September 2022 angka kemiskinan perkotaan meningkat sebanyak 0,16 juta orang jika dibandingkan pada Maret 2022 (dari 11,82 juta orang pada Maret 2022 menjadi 11,98 juta orang pada September 2022). Dan pada periode yang sama jumlah penduduk miskin perdesaan meningkat sebanyak 0,04 juta orang (dari 14,34 juta orang pada Maret 2022 menjadi 14,38 juta orang pada September 2022).

"Ini menjadi refleksi Perguruan Tinggi, manakala Perguruan Tinggi hadir untuk memberikan dampak bagi pembangunan nasional/daerah dalam hal mendukung penyelesaian berbagai agenda pembangunan dan permasalahan di masyakat yang belum/sementara diselesaikan. Bahwa Pendidikan sebagai media yang paling relevan dalam memutus mata rantai kemiskinan, maka sudah sangat wajar kehadiran Perguruan Tinggi harus mendukung salah satu persoalan ini, yaitu pengurangan angka kemiskinan," ucapnya.

Lanjutnya, Dalam 3 tahun terakhir angka kemiskinan Provinsi NTT cenderung membaik di akhir tahun 2022 tingkat kemiskinan menurun 0,39 persen tentunya ini adalah hal positif, namun disisi lain Propinsi NTT masih menjadi salah satu Propinsi dengan angka kemiskinan ekstrim yang cukup tinggi. Apresiasi untuk Pemerintah daerah Kabupaten Sikka yang telah mampu menurunkan angka kemiskinan secara signifikan dalam 3 tahun terkakhir.

Ia melihat, hal ini ada relevansi dengan mutu Perguruan Tinggi. "Secara tidak langsung terlihat adanya relevansi angka kemiskinan dan mutu Perguruan Tinggi. Angka kemiskinan yang menurun drastis berbanding lurus dengan tingkat akreditasi di Nusa Nipa, dilihat dari 19 Prodi yang yang ada, dimana 70 % nya telah terakreditasi Baik Sekali (atau B) termaksud APT-nya," imbuhnya.


"Mutu ini perlu terus dipertahankan, namun demikian dalam rangka mempertahankan mutu tersebut melalui indikator akreditasi tentu berbagai pihak perlu memberikan perhatian dan dukungan oleh karena adanya relevansi seperti disampaikan diatas," tambahnya.

Kehadiran Perguruan Tinggi, kata Adrianus, harus medapat perhatian serius dari berbagai elemen baik Itu Pemerintah Daerah, Dunia Usaha/Dunia Industri, Kelompok masyarakat, LSM, organisasi keagamaan bahkan Filantropi yang perlu bahu-membahu untuk memajukan Pendidikan Tinggi karena Pendidikan Tinggi dirasakan sebagai satu-satunya cara formal dan paling revelan dalam memotong mata rantai kemiskinan dan menciptakan masyarakat unggul berdaya saing.

Dalam rangka menjaga koloborasi Pentahelix ini untuk berdaya guna tinggi sembari menjaga keberlanjutannya, maka penguatan Kemdikbudristek melalui kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) wajib mendapat perhatian melalui berbagai porgram yang ditawarkan antara lain Kampus Mengajar, Magang dan Studi Independent Bersertifikat (MSIB), Pertukaran Mahasiswa Merdeka, Wiruausaha Merdeka, Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA), Praktisi Mengajar.

Tentunya dengan berbagai skema program yang telah ditawarkan tersebut berharap UNIPA mengambil bagian dan berkontribusi kepada masyarakat Sikka melalui program dan kegiatan yang ditawarkan dengan menjaga kualitas pendidikan dan relevansinya terhadap pemasalahan bangsa.

Selain itu, untuk keberlanjutannya, kami dari Kemdikbudristek juga berharap berbagai pihak eksternal UNIPA yang adalah pemangku kepentingan sekaligus penerima manfaat untuk terus bahu-membahu memberikan dukungan terhadap UNIPA dalam menjaga ekosistim Pendidikan Tinggi untuk SDM Unggul melalui program/kegiatan inisiatif Kampus Merdeka Mandiri antara lain, Maganag/Praktek kerja di DUDIKA, Proyek di Desa, Pertukaran pelajar, Penelitian/Riset, Kegiatan wirausaha, Studi atau Proyek Independent, Proyek Kemanusiaan, serta inisiatif lainnya dalam menjaga keberlanjutan ekosistim dimaksud.


Berita ini telah dimuat pada halaman LLDIKTI Wilayah XV :https://lldikti15.kemdikbud.go.id/berita-pt/prof-adrianus-unipa-jadi-branding-penting-budaya-pendidikan/

Bagikan Berita

Bakti Nyata untuk Nian Tana