News Photo

Pendidikan,   Media  Paling Relevan  Memutus Mata Rantai Kemiskinan

HUMAS UNIPA – Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XV, Prof. Dr. Adrianus Amheka, S.T.M.Eng, menyebutkan bahwa pendidikan sebagai media yang paling relevan dalam memutus mata rantai kemiskinan.

Hal ini disampaikan prof. Adrianus,  saat menggelar 314 wisuda Sarjana Universita Nusa Nipa, Sabtu (15/4/2023) di Maumere.

Prof. Adrianus menjelaskan bahwa, pendidikan sebagai media yang paling relevan dalam memutus mata rantai kemiskinan, maka sudah sangat wajar kehadiran Perguruan Tinggi harus mendukung salah satu persoalan ini, yaitu pengurangan angka kemiskinan.

“Saya ucapkan selamat atas terselenggaranya wisuda Sarjana Tahun 2023 pada hari ini yang mana ini memberikan arti penting dukungan UNIPA bagi pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sikka pada umumnya dan Kota Maumere secara khusus, “kata Prof. Adrianus.

Menurut Prof. Adrianus, Pendidikan Tinggi memegang peranan penting sebagai nadi pembetuk SDM unggul tahun 2045. Pendidikan Tinggi yang mencetak produk-produk unggulan bukan hanya dari sisi Tridarma namun produk unggulan yang terpenting adalah output mahasiswa yang diwisuda dan siap berkontribusi bagi Nusa dan Bangsa.

“Suatu dilematis yang terjadi manakala Perguruan Tinggi tindak memberikan kontribusi positif bagi kebutuhan Nusa dan Bangsa (masyarakat). Dalam hal ini antara lain keterpurukan bangsa yaitu kemiskinan, “katanya.

Menurut laporan Statiskik kata Prof. Adrianus, pada September 2022 angka kemiskinan perkotaan meningkat sebanyak 0,16 juta orang jika dibandingkan pada Maret 2022  yakni dari 11,82 juta orang pada Maret 2022 menjadi 11,98 juta orang,  pada September 2022.

Pada  periode yang sama jumlah penduduk miskin perdesaan meningkat sebanyak 0,04 juta orang yakni dari 14,34 juta orang pada Maret 2022 menjadi 14,38 juta orang pada September 2022.

“Ini menjadi refleksi Perguruan Tinggi, manakala Perguruan Tinggi hadir untuk memberikan dampak bagi pembangunan nasional dan daerah dalam hal mendukung penyelesaian berbagai agenda pembangunan dan permasalahan di masyarakat yang belum atau sementara diselesaikan,”kata  Prof. Adrianus.

Dalam 3 tahun terakhir angka kemiskinan Provinsi NTT cenderung membaik diakhir tahun 2022 tingkat kemiskinan menurun 0,39 persen  tentunya ini adalah hal positif, namun disisi lain Propinsi NTT masih menjadi salah satu Propinsi dengan angka kemiskinan ekstrim yang cukup tinggi.

Prof. Adrianus juga memberikan apresiasi untuk Pemda Kabupaten Sikka yang telah mampu menurunkan angka kemiskinan secara signifikan dalam 3 tahun terkakhir. Hal ini tenyata ada relevansi dengan mutu Perguruan Tinggi.  secara tidak langsung kata Prof. Adrianus,  terlihat adanya relevansi angka kemiskinan dan mutu Perguruan Tinggi.

Angka kemiskinan yang menurun drastis berbading lurus dengan tingkat akreditasi di Nusa Nipa, dilihat dari 19 Prodi yang yang ada, dimana 70 persen  telah terakreditasi Baik Sekali (atau B) termaksud APT-nya. Mutu ini perlu terus dipertahankan, namun demikian dalam rangka mempertahankan mutu tersebut melalui indikator akreditasi tentu berbagai pihak perlu memberikan perhatian dan dukungan.

“Kehadiran Perguruan Tinggi harus medapat perhatian serius dari berbagai elemen baik Itu Pemerintah Daerah, Dunia Usaha dan Dunia Industri, Kelompok masyarakat, LSM, organisasi keagamaan bahkan Filantropi yang perlu bahu-membahu untuk memajukan Pendidikan Tinggi karena Pendidikan Tinggi dirasakan sebagai satu-satunya cara formal dan paling revelan dalam memotong mata rantai kemiskinan dan menciptakan masyarakat unggul berdaya saing, “kata Prof. Adrianus.

Prof. Adrianus menambahkan bahwa  saat ini tercatat sebanyak 15,229 mahasiswa dalam database PDDikti baik yang aktif dan telah lulus.  Kalau dihitung-hitung sudah berapa puluh miliar perputaran ekonomi melalui pendanaan pendidikan dalam aktivitas mutu UNIPA selama ini,  dengan hadirya UNIPA telah menggerakan ekonomi sekitar dan berdampak bagi kota Maumere baik dari sisi ekonomi, sosial, dan budaya. 

UNIPA sebagai pusat kendali pengetahuan, inovasi, global engangement, transformasi pembelajaran, organisasi pembelajar dan berbagai hal yang melekat di UNIPA dan sekaligus menjadi branding penting budaya pendidikan di Kabupaten Sikka.

“Dalam rangka menjaga koloborasi Pentahelix ini untuk berdaya guna tinggi sembari menjaga keberlanjutannya, maka penguatan Kemdikbudristek melalui kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) wajib mendapat perhatian melalui berbagai porgram yang ditawarkan antara lain Kampus Mengajar, Magang dan Studi Independent Bersertifikat (MSIB), Pertukaran Mahasiswa Merdeka, Wirausaha Merdeka, Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA), dan  Praktisi Mengajar, “kata Prof. Adrianus.

Tentunya berbagai skema program yang ditawarkan tersebut berharap UNIPA mengambil bagian dan berkontribusi kepada masyarakat Sikka melalui program dan kegiatan yang ditawarkan diatas sembari menjaga kualitas pendidikan dan relevansinya terhadap pemasalahan bangsa.

Kemdikbudristek juga berharap berbagai pihak eksternal UNIPA yang adalah pemangku kepentingan sekaligus penerima manfaat untuk terus bahu-membahu memberikan dukungan terhadap UNIPA dalam menjaga ekosistim Pendidikan Tinggi untuk SDM Unggul melalui program dan kegiatan inisiatif Kampus Merdeka Mandiri diantaranya Maganag  atau Praktek kerja di DUDIKA, Proyek di Desa, Pertukaran pelajar, Penelitian atau Riset, Kegiatan wirausaha, Studi atau Proyek Independent, Proyek Kemanusiaan, serta inisiatif lainnya dalam menjaga keberlanjutan ekosistim tersebut.

Sumber: https://globalflores.com/2023/04/16/pendidikan-media-paling-relevan-memutus-mata-rantai-kemiskinan/

Bagikan Berita

Bakti Nyata untuk Nian Tana